Selasa, 15 November 2011

Ronggeng untuk Pak Menteri


Siang itu panas sekali. Sang mentari menatap tegas para pejabat kampus. Mereka berjubel di depan sebuah gedung yang baru. Empat lantai tingginya. Sangat mewah.
Batik cokelat yang dipadukan dengan celana hitam meliliti tubuhnya. Rapih. Rambutnya disisir ala tahun delapan puluhan.
Di gerbang kampus pak polisi tegak berdiri lengkap dengan bedil panjang. Sebuah kotak hitam digenggamnya. Terdengar gemerisik suara meyelinap dari lubang kotak hitam itu. Dan sesekali kata “ganti” keluar dari mulut pak polisi yang lancip.
“Pak menteri sudah berada di kilometer sepuluh. Lima menit lagi masuk lokasi. Pastikan keadaan aman!,” suara tegas dan kaku itu berasal dari kotak hitam yang di genggam salah satu polisi.
“Siap!,” sahutnya.
Melalui komando seorang pria berpakaian safari, para pejabat kampus itu dengan sigap mengubah posisi. Mereka kini berjajar anggun. Beberapa nampak merapihkan rambutnya.
Selang beberapa jenak iring-iringan mobil yang mengangkut pak menteri meraung seram. Suara gagahnya memecah keheningan kampus islam tertua di negeri ini.
“Pak menteri wis tekan,” kata salah seorang petugas cleaning service dengan muka takjub.
Kini pak menteri bersalaman dengan para pejabat kampus itu. Setelah acara dimulai ia memberikan sambutan. Sekaligus meresmikan gedung yang berdiri anggun dihadapannya.
“Gedung perpustakaan ini saya resmikan dengan bersama-sama membaca basmalah…”
“Bismillaahirrahmaanirrahiim”
Tepuk tangan pun kini bergemuruh.
Seusai acara, pak menteri berfoto dengan para pejabat kampus. Dan diikuti dengan melakukan berbagai macam tanda tangan. Termasuk tanda tangan diatas batu besar sebagai tanda resminya gedung ini.
Tepat disamping gedung yang diresmikan itu berdiri megah sebuah masjid. Kubahnya berwarna kuning. Dari gerbang di pinggir jalan masjid ini nampak tegap berdiri. Kini dari sana kini mengalir syahdu kumandang adzan. Pertanda masuk shalat dzuhur.
Akan tetapi disamping masjid, pak menteri sedang meresmikan gedung baru. Bahkan menurut rundown acara kini saatnya hiburan, bukan shalat dzuhur.
Seorang penabuh gendang ditemani dua orang penabuh lainnya mulai beraksi. Seorang ronggeng seksi dengan pakaian kebaya ketat pun menari di depan pak menteri. Lenggokannya mengalahkan si juru adzan.
Hingga kini, mungkin sampai beberapa menit ke depan, pak menteri, pak rektor, dan beberapa pejabat kampus islam tertua di negeri ini  tergiur oleh ronggeng muda belia. Sementara si juru adzan tetap sabar berteriak dengan suaranya yang serak.
Dan ternyata menurut kabar burung, pak menteri dan para pejabat kampus itu menikmati alunan ronggeng sampai shalat dzuhur kloter pertama selesai. Maklum saja, pak menteri kan datang untuk meresmikan gedung baru dan menikmati lenggokan sang ronggeng, bukan untuk shalat dzuhur. Begitu pun para pejabat kampus islam lain.

Tarbiyah Perkelahian (Part 1)



Arswendo Atmowiloto, nama penanya. Ia termasuk sastrawan yang memiliki cukup bekal untuk merajut rangkaian kata dalam mengisahkan cerita tentang sebuah perkelahian. Novel silatnya yang cukup legendaris yaitu “Senopati Pamungkas”.

Dalam novel tersebut, sastrawan yang juga seorang dosen ini mampu mendeskripsikan perkelahian dalam detail yang cukup baik. Tak hanya berbagai macam jurus yang ia kuasai, kreativitas penyusunan diksinya pun patut diacungi jempol.

Rupanya tak hanya Bang Wendo, cerita fiksi Indonesia yang berbau perkelahian juga sempat mewarnai layar kaca Nusantara dengan lahirnya film “Merantau”. Film ini dibintangi seorang atlet pencak silat ternama Iko Uwais. Pun, digarap serius sang empu cerita. Sehingga tak heran jika gerakan demi gerakan silat dalam film ini begitu memukau dan menyihir penonton.

Akan tetapi, yang cukup menarik perhatian penulis bukanlah siapa yang mengarang cerita, atau bahkan bagaimana tingkat kesusastraannya. Yang ingin menjadi sorotan disini yaitu kaitannya dengan suasana yang dirasakan sang tokoh ketika mengalami perkelahian di kehidupan nyata.

Cerita fiksi pasti dibumbui berbagai macam “rempah-rempah” agar terkesan dramatis. Dari mulai penciptaan karakter tokoh, pembentukan seting, pengkondisian atmosfer bahasa, perangkaian plot, hingga pemilihan diksi. Ini wajar dan sah. Sebab, cerita fiksi dituntut menempelkan “efek” agar dapat meyakinkan pembacanya. Namun apakah benar perkelahian dalam kehidupan nyata memiliki “rasa” yang sama dengan cerita fiksi?

Menurut pengalaman pribadi penulis, suasana yang tercipta memang tak jauh berbeda dengan perkelahian dalam sebuah cerita fiksi. Tuntutan untuk terus waspada serta fokus mengamati gerakan lawan, menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi jika berbicara masalah pengaturan nafas serta penekanan emosi. Mungkin akan menjadi bagian yang perlu mendapat pembahasan khusus. Bahkan tak hanya itu, jika suasananya dapat dikendalikan dengan baik, maka bukan tak mungkin sebuah perkelahian dapat menjadi ajang untuk pembinaan diri atau dikenal dengan istilah “tarbiyah.”

Tarbiyah Niat

“Kamu ikut olah raga bela diri?,” tanya salah seorang atlet taekwondo beberapa tahun yang lalu.
“Iya,” jawabku.
“Oh, biasanya sih hanya satu bulan,” komentarnya ringan.
“Maksudnya?”
“Iya, paling hanya satu bulan. Setelah itu berhenti deh”

Itulah penggalan percakapan penulis dengan salah seorang atlet taekwondo asal Tasikmalaya Jawa Barat. Menurut beliau, belajar ilmu berkelahi itu tak mudah. Perlu alasan yang sangat kuat mengapa seseorang mempelajarinya. Hal ini juga diamini oleh salah seorang pelatih Thifan Po Khan Tsufuk Yogyakarta, Devi. Ia mengatakan, jika orang yang ikut latihan Thifan niatnya kurang lurus, maka hampir dipastikan tak akan bertahan lama.

Kedua atlet dari cabang yang berbeda tersebut nampaknya memiliki kesamaan pandangan. Yaitu, bahwa niat yang kuat memiliki pengaruh yang signifikan.

Belum lagi jika membaca sejarah tokoh silat yang bernama Kahar. Ia adalah founding father pencak silat aliran Cimande. Pada awalnya beliau tak secara serius mempelajari ilmu silat. Yang dilakukannya hanyalah mempelajari berbagai macam gerakan binatang untuk dipraktekan ketika menghadapi perampok.

Saat itu, sekitar tahun 1760an, guru besar silat Cimande ini seringkali melakukan perjalanan dagang menyusuri hutan. Dan tak jarang pula ia harus berhadapan dengan binatang buas serta  bromocorah. Sehingga lama kelamaan tanpa disadarinya ia menguasai teknik silat tersendiri yang dicurinya dari gerakan hewan. Beberapa diantaranya yakni teknik monyet menyerang dengan kayu menjadi “jurus pepedangan”, serangan dengan tangan yang kokoh menjadi “jurus pamacan”, serta teknik perkelahian antara monyet dengan seekor macan yang pernah dijumpainya menjadi “jurus kelid pamonyet”.

Kahar pada awalnya tak memilki keinginan untuk membuat sebuah aliran ilmu bela diri. Ia hanya bertekad kuat bagaimana caranya agar selamat dari para perampok. Sehingga konsekuensinya,  ia harus mentarbiyah dirinya secara serius dengan berbagai macam ilmu olah kanuragan.

Tarbiyah Konsistensi

Sebuah hipotesis yang dapat penulis simpulkan yakni, jika orang yang belajar ilmu bela diri hanya ingin “gaya-gayaan” maka hampir dipastikan tak akan konsisten. Mungkin hanya satu atau dua bulan.

Salah satu contohnya misal, seorang yang ingin belajar ilmu bela diri silat Cimande harus menguasai sebanyak 33 jurus kelid Cimande, satu rangkaian jurus pepedangan yang terdiri dari elakan sebeulah - selup kuriling - jagangan - tagongan - piceunan - balungbang- balumbang sabeulah – opat likur buang dua kali – selup kuriling langsung – selop biohong, serta jurus tepak selancar. Dan yang perlu diingat, puluhan jurus tersebut merupakan jurus inti. Sedangkan jika seseorang yang belajar dari dasar, maka sebelumnya harus menguasai terlebih dahulu berbagai macam teknik dasar yang mungkin bisa menghabiskan waktu beberapa tahun.

Atau, cabang bela diri Thifan Po Khan Tsufuk. Dalam ilmu bela diri ini, seorang talmid (sebutan untuk murid) biasanya menyelesaikan beberapa rangkaian jurus dalam waktu yang tak kurang dari delapan tahun, atau bahkan bisa lebih. Pasalnya, ilmu bela diri pecahan dari Kungfu Shaolin ini memiliki ratusan jurus. Satu jurusnya saja jika dipelajari dengan serius menghabiskan waktu tiga hingga enam bulan.

Contohnya, rangkaian gerakan yang tergabung dalam Tsen Kai. Tsen Kai terdiri lebih dari enam tingkatan. Masing-masing tingkatan terdiri dari enam jurus. Satu paket enam jurus tersebut bisa dipelajari sekitar enam bulan. Bahkan satu tahun. Ini tergantung dengan kemampuan talmid. Belum termasuk jurus-jurus dasar. Juga, masih ditambah dengan jurus rangkaian pukulan tangan kosong, rangkaian tendangan, serta gerakan kuda-kuda. Yang lebih ekstrim, satu jurus harus diulang hampir seribu kali dalam setiap kali latihannya.

Bercermin dari kedua ilmu bela diri tersebut maka dapat ditarik benang merah bahwa belajar ilmu bela diri tak hanya belajar untuk menjadi seorang pendekar, namun juga belajar untuk menjadi ahli istiqomah. Betapa tidak, satu kali latihan saja harus rela menguras banyak energi. Bahkan tak jarang ada yang hingga muntah, padahal baru mengikuti gerakan pemanasan.

Tak heran jika beberapa ilmu bela diri mempercayai adanya kekuatan “tenaga dalam” yang dapat memperkuat dirinya dalam setiap pertandingan. Ini logis. Sebab kekuatan itu timbul dari gerak refleks  yang terus menerus dilakukan dengan konsisten.

Tarbiyah Kesabaran

Mungkin ini sangat erat kaitannya dengan perkelahian jalanan, bukan saat latihan. Meskipun belakangan ini amat jarang perkelahian fisik jalanan yang diladeni dengan serius. Pasalnya, banyak perkelahian yang serba instan. Salah satu contohnya dengan membawa senjata tajam atau menenteng sebilah senapan.

Jika dilihat dari segi perkelahian, perkelahian jalanan memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Kekurangannya terletak pada senjata yang dimiliki lawan bisa dikeluarkan secara tiba-tiba. Ini sering terjadi jika di sekitar terjadinya perkelahian banyak terdapat benda keras seperti batu. Akibatnya, lawan bisa memanfaatkan benda-benda tersebut untuk menyerang dengan cara yang sangat instan.

Di sisi lain, pertarungan jalanan pun memiliki sisi positifnya. Pada umumnya, preman jalanan tak memiliki latar belakang ilmu bela diri yang cukup. Yang ia andalkan hanyalah keberanian dan jam terbang di lapangan. Sehingga seringkali mendapatkan telak tajam saat harus berhadapan dengan seorang atlet olah raga bela diri yang mempelajari teknik secara serius. Ini menjadi kelebihan tersendiri jika kita menjadi orang yang pernah mempelajari ilmu bela diri.

Terlepas dari medan perkelahian, agaknya ada satu hal yang disepakati oleh para petarung. Yakni kaitannya dengan kesabaran.

Orang yang melakukan perkelahian dengan serangan membabi-buta hampir dipastikan akan mengalami kekalahan. Tapi dengan syarat sang lawan tak terpengaruh nyalinya oleh serangan yang tak jelas tersebut. Atau, orang yang jika sebelum berkelahi sudah tersulut emosinya maka bisa diprediksi akan sangat mudah dilumpuhkan. Sebab, dalam setiap perkelahian, ketenangan adalah kuncinya. Makanya karakter sang shufu’ dalam film layar lebar kung fu selalu ditokohkan memiliki karakter yang amat tenang.

Tarbiyah kesabaran memang sangat mudah didapatkan dari ilmu perkelahian atau teknik bela diri. Hal ini juga berbanding lurus dengan latihan untuk meluruskan niat serta latihan untuk terus konsisten. Tanpa adanya niat yang kuat maka tak mungkin melahirkan konsistensi dalam setiap latihan. Tak berbeda juga kaitannya dengan kesabaran. Sebesar apa pun tingkat tekad seseorang, serta setinggi bagaimana pun tingkat konsistensinya, hampir tak akan berhasil jika tak dibarengi dengan kesabaran, baik saat latihan maupun ketika dalam arena pertandingan.

Kombinasi ketiganya penulis sebut dengan istilah “Tarbiyah Perkelahian”. Niat yang kuat, konsistensi yang tinggi, serta kesabaran yang murni, bukanlah lahir untuk belajar berkelahi, akan tetapi sebaliknya. Ketiganya terlahir dari sebuah perkelahian.

Orang yang sudah menguasai ilmu bela diri hampir dipastikan memiliki kombinasi ketiganya. Jika tidak, maka ilmu olah kanuragan yang ditempanya belum sempurna. Ia belum layak disebut sebagai seorang petarung. Sebab, seorang petarung sejati bukanlah yang selalu menggunakan ototnya dalam menjawab setiap permasalahan, melainkan yang sabar dalam menyembunyikan kemampuan ototnya. Perlu diingat pula bahwa seorang petarung adalah orang yang sangat pandai menghindari pekelahian secara fisik. Ini disebabkan oleh penguasaan ketiga kombinasi tarbiyah perkelahian yang penulis sebutkan.

Tarbiyah dalam Tangan “Sastrawan Silat”

Jika ditarik benang merah, hal ini ada kaitannya dengan kemampuan sastrawan dalam merangkai cerita fiksi silat yang telah dipaparkan diatas. Arswendo Atmowiloto mungkin salah satunya. “Suasana dan rasa” yang tercipta dalam perkelahian yang sesungguhnya memang tak jauh berbeda dengan yang dideskripsikan oleh tangan-tangan para sastrawan. Sebab, seperti yang pernah disebutkan oleh seorang penulis, Afrizal Malna, bahwa dalam menulis puisi atau cerita fiksi pada umumnya, dituntut untuk menulis dengan teknik berpikir dengan gambar.

Lewat memori sang penulis, menurutnya, personifikasi hal-hal yang ada di sekitarnya mengalami internalisasi dengan pengalaman yang pernah dialaminya. Lalu untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan maka perlu diadakannya konstruksi pemaknaan wacana yang telah terinternalisasi dengan baik dalam pikiran sang penulis.

Dalam konteks perkelahian, tak dapat disalahkan jika sang penulis terkesan mendramatisasi gagasan yang ingin dituliskannya. Terlebih dalam cerita fiksi. Tujuannya hanya satu, yaitu agar pembaca mampu menangkap wacana yang terangkai dengan baik dalam pikirannya. Toh dalam kenyataannya, tak jauh berbeda suasana yang dirasakan antara tulisan yang disajikan dengan pengalaman perkelahian yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan nyata.

Dan, jika sang penulis mampu menggambarkan para tokoh silatnya dengan baik, suasana yang tercipta tersebut akan menghasilkan formula tarbiyah yang mengarahkannya menuju petarung sejati. Lewat niat yang lurus, ia dapat memicu konsistensi untuk belajar dengan baik. Begitu pun lewat kesabaran yang cukup, ia dapat  mengatur suasana perkelahian seperti yang terdramatisasi lewat tangan kreatif penulis pada cerita fiksi.

Akhirnya, lewat tangan para sastrawan silat, pembaca dapat menangkap formula “tarbiyah  perkelahian” untuk diaplikasikan dengan baik dalam kehidupan nyata. Namun, lewat perkelahian sesungguhnyalah setiap orang dapat mengaplikasikan formula tersebut dengan sempurna.


Ilustrasi gambar:
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRjmpGXLgk-lMAzoR-H9jwsbhbqI7TKyJOrJF8W5nbgX5qcbD0Gai1sAHf65A

Kamis, 06 Oktober 2011

Mengintip Kecerdasan Rudi

http://asal.comoj.com/images/lampu.jpg
Badan Pusat Statistik mencatat proporsi anak sekolah pada suatu kelompok tertentu yang sekolah sesuai dengan jenjang usia perguruan tinggi hanya sekitar 11,01% pada tahun 2010. (Badan Pusat Statistik)”

 Data diatas sudah sangat cukup untuk menjadi bahan refleksi bagi para mahasiswa. Jika tahun lalu jumlah penduduk Indonesia hanya 11,01% yang mendapatkan kesempatan untuk duduk di perguruan tinggi, maka ada sekitar 88,99% lagi yang statusnya masih dipertanyakan.

Seiring dengan munculnya data tersebut, pertanyaan baru pun muncul, kontribusi apa yang telah diberikan oleh 11,01% itu untuk bangsa ini? Hanya sekedar pekikan “Hidup Mahasiswa” pada masa orientasi ‘kah? Atau, berdesakan dalam waiting list untuk mengisi absensi jumlah pengangguran?

Cukup naif jika jumlah yang tak banyak itu turut mengotori permasalahan bangsa. Apalagi jika menilik data lain bahwa lulusan perguruan tinggi lebih banyak yang menganggur daripada yang bekerja, menyaksikan para mantan mahasiswa yang menjadi koruptor nomor wahid, atau merasakan bagaimana permasalahan di negeri ini yang tak kunjung usai dari waktu ke waktu. Lalu sosok mahasiswa seperti apakah yang dirindukan agar membawa perubahan bagi bangsa? Yang termasuk kategori bagaimanakah yang disebut sebagai mahasiswa sukses?

Pertanyaan yang tak sederhana ini mencoba disampaikan kepada salah satu mahasiswa yang memiliki predikat yang menjanjikan di kampusnya.

Rudi, begitulah mahasiswa ini biasa dipanggil. Ia merupakan salah satu mahasiswa universitas terkemuka di Yogyakarta yang sudah tersoroh dimata para dosen. Meskipun demikian, ada satu hal yang sangat menggelitik dari mahasiswa yang hampir setiap hari memakai baju hem ini. Ia adalah sosok yang tak angkuh, mudah bergaul, dan menjadi “penguasa” hampir di setiap organisasi.

Apalagi jika mencoba untuk menggandrungi kosnya, berbagai macam piala serta piagam penghargaan nampak berlaga di pojok kamarnya yang berukuran 3 X 4 itu.

Air mukanya yang teduh membuat hati setiap orang yang memandang terpesona. Kesan berwibawa melekat pada panampilannya yang sederhana, bicaranya yang runut dan fasih, serta perilakunya yang ramah.

Saat ditemui, dengan tersipu malu ia menjawab,
“Ah, saya gak pantas ditanyain tentang sosok mahasiswa yang berguna bagi bangsa. Apalagi dimintai pendapat mengenai sosok mahasiswa seperti apa yang ideal. Toh, saya mahasiswa yang biasa-biasa saja,” senyuman pun tersungging dari bibirnya yang melintang.

Dengan tetap tidak menunjukan bahwa ia termasuk mahasiswa yang sukses, Rudi berniat berbagi dengan rekan mahasiswa yang lain,

“Mungkin saya hanya mau sharing saja. Dan ini pun hanya sedikit pengalaman yang pernah saya lakukan. Setiap orang ‘kan punya parameter kesuksesan masing-masing ketika kuliah. Tapi kalau saya berprinsip, ada enam hal yang menjadi parameter kesuksesan sebagai mahasiswa”

Ia berhenti sejenak untuk kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan nada yang mulai agak serius. Akan tetapi, aroma persahabatan masih tetap bisa dirasakan.

“Untuk diri saya sendiri saya menerapkan enam hal. Yang pertama, lulus tepat waktu. Kalau bisa sih maksimal empat atau empat setengah tahun untuk mahasiswa yang kuliah di jurusan sosial seperti manajamen, akuntansi, atau ilmu ekonomi. Sebabnya sangat sederhana, kalau kuliah terlalu lama tidak tega melihat orang tua yang dengan susah payah terus membiayai. Siapa sih orang tua yang tak bahagia melihat anaknya mendapat gelar sarjana?”

Ia tercatat sebagai mahasiswa berprestasi tahun 2009. Masa studinya pun termasuk sebagai aktivis tercepat yang mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu.

“Kemudian yang kedua, Indeks Prestasi Kumulatif diusahakan diatas 3,25. Walaupun beberapa teman punya keyakinan bahwa yang penting diatas tiga, tapi yang jelas tak sedikit perusahaan multinasional yang mensyaratkan indeks prestasi kumulatif minimal 3,25. Dan kalau bisa, jadi mahasiswa itu jangan kuper. Artinya, harus memiliki banyak teman dan dikenal di lingkungannya.”

Sesekali ia menatap layar laptop yang ada di hadapannya. Menurutnya, ia kini tengah mengerjakan proposal untuk mengikuti PKM (Program Kreativitas Mahasiswa).

“Kalau menurut saya, jadi mahasiswa itu harus komunikatif dan kreatif. Menjadi mahasiswa sangat jauh berbeda dengan menjadi siswa SMA. Mahasiswa itu bukan robot. Maksudnya, jadi mahasiswa itu kalau bisa harus banyak kegiatan agar  bisa menambah wawasan.”

Bahasanya yang renyah serta kata-katanya yang runut bak untaian mutiara, membuat siapa pun tak akan bosan berbincang dengannya. Kacamata beningnya pun menjadi kesan tersendiri akan pribadinya yang mengagumkan. Tapi, ada satu hal yang menjadi pertanyaan bagi Rudi. Yaitu terkait dengan aktivitas organisasi.

Tak sedikit dari kalangan mahasiswa baru yang tak berkeinginan aktif di organisasi lantaran takut menjadi mahasiswa abadi. Dan banyak pula yang berasumsi bahwa masuk organisasi itu hanya buang-buang tenaga dan waktu.

Dalam hal ini, Rudi dengan tenang menjawab,
“Ah…itu hanya mitos saja!,”

Lagi-lagi, senyuman hangat merekah dari bibirnya yang merah sambil meneguk secangkir teh hangat yang terhidang di hadapannya.

“Jadi begini, menurut saya ada tiga hal yang menjadi tujuan utama kuliah. Dari mulai meng-upgrade ­ilmu sesuai dengan bidang keahlian kita, meng-create pola pikir, serta menciptakan semacam sosial responsibility

Meski sebelumnya ia hanya mengungkapkan hal-hal yang sangat sederhana, namun agaknya intelektualitasnya mulai kentara dari tiga tujuan utama kuliahnya yang kini ia ungkapkan.

Meng-upgrade ilmu sesuai dengan bidang keahlian kita maksudnya yaitu, seoptimal mungkin jajal terus  ilmu yang terdapat dalam jurusan kita. Misalkan kita kuliah di jurusan akuntansi maka kita harus mengusahakan untuk menguasai ilmu akuntansi secara mendalam. Sangat miris rasanya jika kita melihat mahasiswa yang masuk kuliah hanya sekedar mengisi presensi. Jika kita kuliah di jurusan A, maka itu artinya bidang ilmu minimal yang harus kita kuasai yaitu ilmu yang terdapat di jurusan A. Pokoknya harus ditargetkan, semester pertama mendapatkan indeks prestasi diatas 3,7. Sebab, biasanya semester pertama itu menjadi kunci untuk semester berikutnya. Dan yang perlu diingat, ilmu yang kita dapatkan dari dosen di kelas hanya 30% saja. Sedangkan sisanya kita sendiri yang proaktif. ”

Sejenak ia menatap mahasiswa yang tengah asyik berdiskusi di depannya yang hanya terhalang oleh beberapa meja.

Meng-create pola pikir berarti menciptakan alur berpikir kita sebagai seorang mahasiswa, bukan sebagai siswa. Mahasiswa itu, setidaknya menurut saya, selain berperan sebagai agen perubah juga dituntut harus menjadi orang yang memiliki wawasan wiyata mandala. Dalam hal ini, seorang mahasiswa dituntut untuk mampu membentuk semacam target yang hendak dicapai. Menurut trainer nasional Ustadz Satria Hadi Lubis, setiap kita dituntut untuk membentuk Life mapping. Kalau boleh saya menyimpulkan sih, buatlah target akan menjadi apa diri kita sepuluh tahun ke depan. Lalu, jabarkan targetan itu menjadi targetan-targetan kecil. Dan yang lebih penting urutkan secara rinci apa yang ingin dicapai ketika kita sedang kuliah untuk menggapai target kita sepuluh tahun ke depan itu. Pun, jangan monoton dari tahun ke tahun. Usahakan tingkat ‘kesulitan’ target kita ketika kuliah di tahun pertama hingga tahun keempat semakin bertambah. Coda deh baca buku-bukunya beliau biar lebih lengkapnya, atau baca buku-bukunya Solihin Abu izzudin agar dijadikan referensi untuk meledakan semangat. Di Toko buku juga banyak Lho….”

Tawa segar pun mengiringi sarannya untuk membaca buku Satria Hadi Lubis dan Solihin Abu izuddin. Tak diduga, ternyata mahasiswa yang kerap dipanggil “si aktivis kampus” oleh teman-temannya ini juga hobi bercanda.

“Dan jangan lupa tujuan utama seorang mahasiswa saat kuliah yang terakhir yaitu harus memiliki semacam social responsibility. Simpelnya, ikut aja deh beberapa organisasi. Saya yakin tak mungkin para pemimpin yang sekarang duduk menjadi Top manejemen perusahaan itu tak pernah mengikuti organisasi. Soalnya, bukankah suatu saat kita berakhir di sebuah organisasi? Mungkin ada yang berupa organisasi perusahaan, perbankan, atau unit bisnis yang kita miliki sendiri. Kalau saya pernah baca di internet, menurut survey, kualifikasi aktif di organisasi menjadi ranking teratas yang disarankan dari dunia kerja. Setelah itu baru mengasah kemampuan bahasa inggris, tekun belajar, mengikuti perkembangan informasi, memiliki pergaulan luas, dan mempelajari aplikasi komputer”

Mahasiswa dengan baju berkerah lengan pendek yang dipadukan dengan celana jeans ini berpendapat bahwa masuk lembaga dakwah termasuk salah satunya,

“Saya dari mulai masuk kampus hingga sekarang masih aktif di lembaga dakwah, walaupun dengan peran yang berbeda-beda. Menurut saya, masuk deh lembaga dakwah yang ada di kampus. Belajar sekaligus beramal. Pasti gak akan rugi. Yakin saja dengan janji Allah, intansurullah yansurkum wayutsabbit akdaamakum, yang menolong agama Allah pasti akan ditolong oleh-Nya. Kalau menurut dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Budaya, Pak Sus Budiyanto, dari sudut pandang psikologi, misalkan ada mahasiswa yang nilainya turun gara-gara aktif di organisasi keislaman artinya ada yang salah dengan keaktifannya itu. Mungkin keikhlasan masuk organisasi itu untuk berdakwah diragukan. Beliau juga mengatakan bahwa orang yang ikhlas pasti cerdas. Apalagi janji Allah dalam Al Qur’an sudah sangat jelas.”

Lembayung merah mulai menggelayut di ufuk barat. Rudi pun hendak bergegas untuk melanjutkan agenda berikutnya, yaitu buka bersama di masjid kampus. Namun sebelum beranjak ia mengatakan,

“Jika dirangkum, menurut saya untuk menciptakan mahasiswa yang tak hanya cerdas dari segi intelektualitas namun juga yang berhati nurani, maka organisasi keislaman adalah tempatnya. Disana akan ditemukan kawan yang mengingatkan disaat kita salah, yang menyokong disaat kita jatuh, yang menemani disaat kita sendiri, serta yang mendorong untuk menjadi mahasiswa yang berguna bagi bangsa dan agama.”